Problematika
Kependudukan Bagi Sosial dan Lingkungan
|
Tawuran dikalangan
Remaja
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal
3 disebutkan bahwa, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan definisi ini,
dapat difahami bahwa pendidikan nasional berfungsi sebagai proses untuk
membentuk kecakapan hidup dan karakter bagi warga negaranya dalam rangka
mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat, meskipun nampak ideal
namun arah pendidikan yang sebenarnya adalah sekularisme yaitu pemisahan
peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh. Dalam
UU Sisdiknas tidak disebutkan bahwa yang menjadi landasan pembentukan kecakapan
hidup dan karakter peserta didik adalah nilai-nilai dari aqidah islam, melainkan
justru nilai-nilai dari demokrasi,sehingga para pelajar sering kali melakukan
hal-hal yang diluar kendali. Dunia pendidikan terlalu sering dicemarkan dengan
hal-hal seperti ini dimana tiap sekolah hanya memikirkan kualitas otak para
anak didiknya, tetapi disatu sisi kualitas mental anak didiknya tidak
diperhatikan. Contoh sederhana dan nyatanya saja dilingkungan sekolah SMP,SMA,
dan Universitas ajang Mos dan Ospek dijadikan ajang balas dendam kepada
junior-juniornya karena mereka merasa ketika dulu mereka masuk diperlakukan hal
yang sama oleh para seniornya. Dimulai dari hal pemalakan, pengancaman, sampai
pemukulan yang berakhir tewasnya pelajar/ junior tersebut.
Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para
pelajar seolah sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing
lagi ditelinga kita. Inilah beberapa contoh yang bisa kita kemukakan sebagai
bukti terjadinya tawuran yang dilakukan oleh para remaja beberapa tahun lalu.
Dalam hal tawuran, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan,
tingkat tawuran antar pelajar sudah mencapai ambang yang cukup memprihatinkan.
Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157
kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13
pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan
15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan
37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban
cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat, dalam satu hari di Jakarta
terdapat sampai tiga kasus perkelahian di tiga tempat sekaligus.
1.1
Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian Tawuran?
2. Apa
penyebab terjadinya tawuran?
3. Apa
dampak dari tawuran?
4. Bagaimana
cara mengatasi tawuran?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Tawuran
Dalam kamus
bahasa Indonesia “tawuran”dapat
diartikan sebagai perkelahian yang
meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar”
adalah seorang manusia yang belajar.
Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian
yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan
oleh orang yang sedang belajar. Tawuran adalah istilah yang sering digunakan
masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau
tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat.
Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang
menjurus pada tindakan bentrok. Tawuran dapat menyebabkan perpecahan di
kalangan para pelajar.Tawuran merupakan suatu penyimpangan sosial yang berupa
perkelahian.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan
pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja,
dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
a) Delikuensi situasional,
perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul
akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
b) Delikuensi sistematik,
para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi
tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus
diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan
apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita
ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk
yang mana dari pembentukan genk inilah para
remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang
harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.
2.
Penyebab Terjadinya
Tawuran
· Faktor internal,
faktor ini merupakan faktor utama penyebab para pelajar banyak yang “ikut-ikut”
tawuran diantaranya.
Ajakan teman, beberapa pelajar yang
tawuran ternyata ada diantara karena ajakan teman, karena takut dibilang “cupu
loe ga mau ikut tauran, punya nyali ga loe..??” atau “ini kan buat kebaikan
sekolah kita, klo loe ga ikut mending ga usah jadi temen gue..”, hal ini juga
pernah terjadi pada diri saya pribadi, akan tetapi saya selalu mengabaikan hal
tersebut karena saya tahu hal itu tidak berguna.
Mental yang lemah, tidak mau dibilang
“cupu” atau “culun” banyak diantara mereka terlibat dalam tawuran, ini
mencerminkan bahwa mental para pelajar kita sangatlah lemah, hal ini tentu
harus segera diperbaiki secepatnya, mulai dari diri sendiri dengan dibantu
pihak-pihak terkait seperti guru dan orang tua.
· Faktor eksternal,
selain faktor internal faktor eksternal secara tidak langsung mendorong para
pelajar pelajar untuk melakukan aksi tawuran, diantaranya.
Ekonomi,
biasanya para pelaku tawuran adalah golongan pelajar menengah kebawah ini
disebabkan faktor ekonomi mereka yang pas-pasan bahkan cenderung kurang membuat
membuat mereka melampiaskan segala ketidakberdayaannya lewat aksi perkelahian
tersebut, karena diantara mereka merasa dianggap rendah ekonominya dan akhirnya
ikut tawuran agar dapat dianggap jagoan.
Perhatian, kurangnya perhatian dari orang-orang disekitar mereka seperti
orang tua dan guru membuat mereka bebas dan bisa melakukan segala sesuatu
sesuka hati mereka, termasuk tawuran diantaranya.
Perkelahian antar pelajar memang berdampak
buruk baik untuk pelajar itu sendiri juga bagi orang lain, tetapi tawuran antar
pelajar masih sangat mungkin diminimalisir dengan beberapa cara, seperti
memberi perhatian lebih kepada para pelajar, jika disekolah diberikan kegiatan tambahan
seperti extrakulikuler, dirumah orang tua bisa lebih dekat lagi dengan
anak-anaknya dan lebih banyak bertanya jika anaknya pulang terlambat dan yang
terpenting kesadaran dari setiap individu sangat diperlukan, karena jika tidak
ada kesadaran diri untuk tidak ikut-ikutan dalam tawuran, maka akan mudah
terpengaruh dari oleh orang lain.
Dan
menurut penelitian yang dilakukan oleh A.Christakis,MD,MPH
dan Frederick Zimmerman,Phd
menyimplukan bahwa perilaku agresi yang dilakukan generasi muda sangat berhubungan
dengan kebiasaannya dalam menonton tayangna televisi.Kalau berdasarkan
penelitian yang ada maka sudah sangat wajar kalau banyak pelajar yang melakukan
tawuran karena ini berbanding dengan banyaknya tayangan televisis yang
menayangkan tindakan kekerasan(tawuran).Fakta yang terjadi bahwa generasi muda
disajikan dengan tontonan tentang kekerasan sehingga bisa saja timbul pemikiran
untuk meniru dan juga timbul pemikiran bahwa siapa yang kuat dia yang menang.
•
Buruknya Lingkungan sosial sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang .
Sehingga apabila seseorang tinggal dilingkungan yang sehat maka tingkah lakunya
pun akan baik sebaliknya apabila lingkungannya tidak mendukung dan banyak
pelaku penyimpangan maka secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan
tingkah laku individu ataupun kelompok.
•
Kurangnya perhatian dari orang-orang di sekitar mereka,seperti orang tua
dan guru yang membuat mereka bebas dan bisa melakukan segala hal sesuka hati
mereka.
•
Faktor ekonomi yang pas-pasan bahkan cenderung kurang juga menjadi
penyebab.Mereka bisa melampiaskan segala ketidakberdayaannya itu lewat aksi
tawuran atau perkelahian .Mereka tidak ingin dianggap rendah mereka ingin
menunjukan eksistensinya atau keberadaan mereka ditengah orang-orang
disekelilingnya.
•
Ketidakstabilan emosi para generasi muda yang cebderung mudah
marah,egois bisa menyebabkan frustasi,sulit mengendalikan diri dan tidak peka
terhadap lingkungan sekitar bisa mendorong mereka melakukan aksi tawuran.Dimasyarakat,khususnya
dikalangan generasi muda seolah-olah berlaku pemeo “senggol-bacok”.Menunjukan
bahwa emosi seorang remaja masih belum stabil mudah tersinggung sehingga
mengundang pihak lawan.
•
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah penyebab
pelajar tersebut bermusuhan.Sehingga,pada suatu waktu akan ada moment dimana
masalah antara kedua belah pihak tidak bisa dibendung lagi sehingga terjadilah
aksi tawuran tersebut.
3.
Dampak Dari Tawuran
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak
pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar.
Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas
mengalami dampak negatif pertama bila Kerugian fisik, pelajar
yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan,
cedera berat, bahkan sampai kematian. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti
bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan
kendaraan, : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran
itu melempari batu dan mengenai rumah warga. Ketiga, terganggunya proses
belajar mengajar
di sekolah.Keempat, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik,
adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian,hilangnya
perasaan peka, tenggang rasa, dan saling menghargai nilai-nilai hidup orang
lain. Terakhir, Menurunnya moralitas para pelajar .Para pelajar itu belajar
bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah
mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai.
Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap
kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
4.
Mengatasi Masalah
Tawuran
Untuk mengatasi masalah tawuran antar pelajar, di
sini saya akan mengambil dua teori. Yang pertama adalah untuk mengatasi tawuran
antar pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya adalah:
a) Banyak
mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri,dan melakukan koreksi
terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
b) Memberi
kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat.
c) Memberikan
bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevandengan kebutuhan remaja zaman
sekarang serta kaitannya dengan pengembangan bakat dan potensi remaja.
d) Patroli
polisi dan satpol PP diintensifkan saat jam pulang sekolah, karena siswa atau
mahasiswa yang berbeda almamater biasanya akan cepat tersulut emosinya saat
mereka berpapasan dengan jumlah yang banyak.
e) Orang
tua harus mengawasi kegiatan anaknya. Apabila si anak belum pulang ke rumah
seperti biasanya, sebaiknya orang tua proaktif menanyakan ke anak melalui
telepon seluler, atau ke teman atau ke sekolahan.
f) Para
pendidik harus mendidik para peserta didiknya dengan seksama agar dapat
membentuk peserta didiknya mencapai kedewasaannya,sehingga ia mampu berdiri
sendiri didalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang
berlaku dilingkungan masyarakat.
Yang kedua adalah untuk mengatasi tawuran pelajar
atau kenakalan remaja pada umumnya harus diadakan program yang meliputi
unsur-unsur berikut:
a) Program
harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedar berfokus pada kenakalan.
b) Program
harus memiliki komponen-komponen ganda, karena tidak ada satu pun komponen yang
berdiri sendiri sebagai peluru ajaib yang dapat memerangi kenakalan.
c) Program
harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah
belajar dan berperilaku.
d) Upaya-upaya
harus diarahkan pada institusional daripada perubahan individual, yang menjadi
titik berat adalah meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak yang kurang
beruntung.
e) Memberi
perhatian kepada individu secara intensif dan merancang program unik bagi
setiap anak merupakan faktor yang penting dalam menangani anak-anak yang
berisiko tinggi untuk menjadi nakal.
f) Dan
program pendidikan yang dilakukan dengan tiga lembaga yaitu formal,informal,dan
nonformal.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam
kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang
meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar.
Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh
sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang
sedang belajar. Tawuran adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia,
khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang
dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada
beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada
tindakan bentrok. Tawuran dapat menyebabkan perpecahan di kalangan para
pelajar.Tawuran merupakan suatu penyimpangan sosial yang berupa perkelahian.
Perkelahian
antar pelajar memang berdampak buruk baik untuk pelajar itu sendiri juga bagi
orang lain, tetapi tawuran antar pelajar masih sangat mungkin diminimalisir
dengan beberapa cara, seperti memberi perhatian lebih kepada para pelajar, jika
disekolah diberikan kegiatan tambahan seperti extrakulikuler, dirumah orang tua
bisa lebih dekat lagi dengan anak-anaknya dan lebih banyak bertanya jika
anaknya pulang terlambat dan yang terpenting kesadaran dari setiap individu
sangat diperlukan, karena jika tidak ada kesadaran diri untuk tidak ikut-ikutan
dalam tawuran, maka akan mudah terpengaruh dari oleh orang lain.
Saran
Menurut saya mengatasi
tawuran pelajar itu dengan mengadakan beberapa kegiatan-kegiatan disekolah
seperti extrakulikuler dan juga mengadakan siraman rohani atau menambah jam
pelajaran agama agar para siswa memahami bahwasannya tawuran itu tidak baik,
dan
tidak bermanfaat untuk dilakukan,namun dari pihak guru atau sekolah harus
memantau dengan seksama jangan hanya mengadakan tapi tidak diperhatikan maka
para siswa hanya mengikuti dengan maen-maen atau tidak serius dan juga siswa
akan pulang seenaknya sendiri. Dalam artian siswa didik tapi tidak ditekan,karena
guru berperan sebagai motivator para siswa agar mereka mau menjalankan apa yang
diadakan disekolah dan mengikuti peraturan disekolah.
Peran orang tua agar anak-anaknya tidak
terjerumus tawuran maka sebagai orang tua harus mendidik dengan baik, dalam
artian orangtua harus memahami kemauan anak-anaknya, menanamkan rasa
toleransi,rasa teganrasa,dan keagamaan didalam diri anak teresebut. Orangtua
tersebut harus memahami dan mengahargai apa yang diperoleh anak-anaknya dan jangan
sesekali orang tua memarahi karena hasil yang didapatnya buruk,karena dengan
memarahinya anak tersebut akan merasa bodoh dan tidak merasa disayang maka anak
tersebut akan mencari orang lain atau temannya yang bernasib sama dan akan
melakukan hal-hal yang diluar kendali. Untuk itu orangtua harus mengahadapinya
dengan penuh sabar,toleransi, dan kasih sayang.
DAFTAR PUSTAKA
·
http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/28/cara-mengatasi-tawuran-504193.html
·
Ihsan, Fuad, Dasar-Dasar Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar